Meleset.... Pagar Dam Pasar Sungai Guntung Malah Dirusak Untuk Kepentingan Pribadi

Posted by On Sunday, March 18, 2018


Sungai Guntung, (puterariau.com)

Sepanjang Dam Jalan Yos Sudarso Sungai Guntung Kecamatan Kateman saat ini sudah menampakkan wajah keindahannya. Dulu Pasar Sungai Guntung yang terkenal sangat semrawut mulai tertata.

Hal ini berkat kerja sama Pemerintah Kecamatan Kateman dan dukungan tokoh masyarakat, tokoh agama dan Muspika yang ada di Kelurahan Tagaraja Kecamatan Kateman.

Namun, pasca penataan dan penertiban, ada oknum yang tidak bertanggung jawab malah merusak sejumlah titik pagar Dam. Hal ini dibenarkan oleh Camat Kateman, Kamren SSos saat dikonfirmasi Putera Riau.

Pantauan di lapangan, tampak beberapa titik sudah dijadikan Pelabuhan untuk kepentingan pribadi. Selanjutnya, upaya penjebolan itu masih berlangsung di beberapa titik lainnya.

"Disini (Sungai Guntung, red) bakal hancur oleh warga sini sendiri. Harusnya, Pemerintah mencegah, karena kalau dibiarkan bisa habis pagar ini dijebol jadi Pelabuhan," kata pemuda setempat, Ubn, pada wartawan.

Camat Kateman membenarkan adanya upaya pengrusakan aset daerah tersebut. Ia pun menilai tindakan warganya sudah menyalahi aturan yang ada.

Masih kata Camat Kateman, pihaknya dengan tegas selaku Pemerintah melarang keras dan tidak membenarkan setiap orang merusak fasilitas umum milik negara/daerah. 

Pemerintah Kecamatan meminta pada yang membongkar pagar Dam tersebut agar menutup dan memperbaiki pagar Dam yang telah dirusak. "Karena hal itu jelas melanggar aturan yang berlaku," katanya.

Ia menghimbau kepada lapisan masyarakat yang ada di Kecamatan Kateman untuk bersama-sama menjaga aset negara yaitu pagar Dam yang terletak di Jalan Yossudarso Pelantar Satu Pasar Sungai Guntung.

"Kami sudah surati, kalau masih juga maka akan ditindak tegas secara hukum oleh Kepolisian," tegas Camat. (Ridho)

Warga Sesalkan Wilayah Parit 8 Sungai Guntung Jadi Lokasi Tumpukan Sampah

Posted by On Tuesday, January 02, 2018


Sungai Guntung, (puterariau.com)

Kian hari tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan semakin rendah saja, seperti halnya di areal sekitar Parit 8, sekitar 480 meter dipenuhi sampah.

"Kotor dan bau," kata Pakde Sucito berkomentar. Parit yang mengalir di sepanjang itu selain dangkal, juga dipenuhi sampah-sampah.

Pantauan puterariau.com pada Selasa siang 02/01/2018  di sepanjang parit yang memisahkan antara jalan Beringin dua dan Hasanudin, Kelurahan Tagaraja Kecamatan Kateman Kabupaten Inhil, persisnya di seputaran 480 meter Parit 8 tampak sangat kotor bahkan volume sampah yang cukup besar menyumbat di  jembatan yang menjadi penghubung antara Hasanudin dan beringin dua.

"Persisnya di Parit 8, sehingga wilayah Sungai Guntung apabila musim penghujan tiba kerap menjadi langganan banjir," ujarnya.

Seandainya seluruh warga bisa sama-sama menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta tidak membuang sampah di sungai niscaya banjir musiman tidak akan terjadi, beber Pakde Sucito.

"Apalagi kalau sampah itu dibakar pasti tidak akan hanyut terbawa air saat hujan, karena selain parit bersih, tingkat pendangkalan juga bisa lebih lambat," katanya.

Senada itu, Pak Mukding (50) warga Beringin yang rumahnya disamping Parit 8 juga mengungkapkan bahwa setiap musim penghujan rumah tempat tinggalnya kerap terendam banjir.

"Udah langganan banjirnya soalnya udah Paritnya dangkal, ditambah lagi sampah menumpuk di parit 8 rumah kami, " ungkapnya. (ridho)

Nunggu Kantor Perikanan Dan Kelautan Sungai Guntung Roboh, Baru Pemerintah Terlihat Sibuk

Posted by On Monday, December 25, 2017


Sungai Guntung, (puterariau.com)

Kantor Dinas Perikanan dan Kelautan Kelurahan Tagaraja Kecamatan Kateman Kabupaten Inhil sudah tak kelihatan lagi seperti kantor Pemerintah. Mungkinkah Dinas ini terancam bangkrut dan gulung tikar karena tak punya anggaran lagi ?

Dari pantauan wartawan puterariau.com di lapangan, Kantor Perikanan dan Kelautan yang terletak di Jalan Yos Sudarso Pelantar Satu sudah reot dan tidak kelihatan lagi jika dilihat dari sisi laut.

Puterariau.com melihat langsung kondisi Kantor Perikanan dan Kelautan dari sisi depan teras kantor tersebut pada Senin siang (25/12).

Sejumlah lapak-lapak beranak malam (pinjam istilah Pak Camat Kamren) yang berdiri tepat di depan Kantor Perikanan dan Kelautan sudah menutup pemandangan Kantor tersebut.

Sangat disayangkan Kantor Perikanan dibiarkan lapuk tanpa ada perawatan oleh UPTD Kantor Perikanan dan Kelautan. Mungkin mereka menganggap Pemerintah akan bangun lagi kantor baru dan sengaja telantarkan kantor saat ini.

Pintu besi kantor itu juga sudah rusak parah dan tinggal menunggu ajal saja baru roboh sendiri. Pokoknya Sungai Guntung punya berbagai cerita plus minus tergantung kemana diarahkan.

Kondisi ini terjadi sejak beberapa tahun lalu. Sejumlah warga menyebut bahwa para pedagang terpaksa bertahan karena Pemerintah belum bisa memfasilitasi pasar bagi para pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Yos Sudarso Pelantar Satu Sungai Guntung.

"Apakah ada pegawai Kantor Perikanan dan Kelautan yang bertugas di Kecamatan Kateman atau tidak sampai kantornya aja tidak terurus lagi ibarat rumah tak bertuan lagi," celetuk beberapa warga terdengar.

Memang kalau jujur, negeri ini hancur karena salah urus oleh oknum penyelenggara negaranya. Mereka berasumsi kemungkinan ada hitung-hitungan antara pegawai Dinas Perikanan dan Kelautan dengan lapak-lapak yang beranak siang malam tersebut.

Saat berita ini diangkat, puterariau.com kesulitan untuk konfirmasi pada UPTD Kantor Perikanan dan Kelautan. Ngalih, istilah banjarnya. (ridho)

Masyarakat Tetehosi Maziaya Kompak Tolak Fo'arota Zega Lanjutkan Masa Jabatan

Posted by On Tuesday, December 19, 2017


Nias Utara, (puterariau.com)

Berdasarkan laporan pengaduan ratusan masyarakat Desa Tetehosi Maziaya Kecamatan Sitolu'ori Kabupaten Nias Utara pada Bupati M. Ingati Nazara, (28/10/17) terkait tindakan Fo'arota Zega yang diduga telah merugikan masyarakat selama menjalankan tugas sebagai Kepala Desa periode lalu, maka dari itu masyarakat Tetehosi Maziaya menolak Fo'arota Zega melanjutkan masa jabatannya sebagai Kepala Desa periode 2017-2023.

Syukurniaman Zega, selaku masyarakat Lotu (11/12) menegaskan hal itu. "Jelas kami dan masyarakat telah menyampaikan laporan kepada bapak Bupati Nias Utara untuk menolak Fo'arota Zega melanjutkan masa jabatannya karena beberapa unsur masalah yang terlibat dimana Fo'arota Zega telah merugikan kami dan masyarakat Desa Tetehosi Maziaya," ungkapnya.

Tambahnya lagi, salah satu yang dilakukan Kepala Desa Fo'arota Zega pada masyarakat Tetehosi Maziaya demi menguntungkan golongan dan pribadinya terkait penggunaan pengadaan Moda Darat transportasi 2013, 1 (Satu) unit mobil L-300 untuk meningkatkan perekonomian masyarakat perdesaan yang difasilitasi oleh Dishubkominfo Kabupaten Nisut pada Poktan SADAR TANI di Desa Tetehosi Maziaya menjadi milik pribadi dan lahan bisnis Kepala Desa selama 5 tahun.

Selain itu, pembangunan sumber daya air (Sarana Air Bersih) di Dusun II yang bersumber dari DD tahun anggaran 2016 smpai sekarang belum dinikmati oleh masyarakat dan pelaksanaanya tidak sesuai dengan RAB pembangunan tembok penahan di Dusun III yang bersumber dari DD TA 2015 (fiktif) belum dilaksanakan, namun telah di SPJ-kan. 

Pungutan liar pembayaran pemasangan listrik tenaga surya sampai sekarang listrik tersebut belum ada. Pekerjaan pengaspalan jalan di Dusun I di belakang rumah Kepala Desa Jalan Padat Karya yang bersumber ADD TA 2012 dan diteruskan pekerjaannya dengan menggunakan dana anggaran DD TA 2015 tidak berkualitas dan pengerjaannya asal-asalan. 

Hasil audit temuan BPK tahun anggaran 2016 sebesar Rp. 255.140.800, belum tentu sudah dikembalikan oleh Kades. Pembangunan Jembatan Ma'ae di Dusun III pelaksanaanya tidak sesuai dengan RAB yang bersumber dari DD 2016. 

Terjadinya nepotisme di jajaran perangkat desa (Abang kandungnya sebagai kepala Dusun I A.n Ya'aro Zega, Anak Ya'aro Zega sebagai Kaur Umum A.n Fiterius Zega, dan kader Posyandu menantu anak abangnya An. Dedi Marlina Zendrato dan anak abangnya An. Leli Sari Zega.

Syukur menambakan bahwa mereka menolak Fo'arota Zega melanjutkan masa jabatannya ke periode 2017-2023, karena dia tidak bertanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat. Kades disebut hanya menguntungkan pribadi dan keluarganya saja. "Nampak kinerjanya selama 5 tahun silam saat menjabat sebagai Kepala Desa dimana tidak ada kemajuan di desa bahkan diduga Fo'arota Zega hanya mengkorupsikan dana desa demi memperkaya dirinya," ungkap Syukur.

Oleh karena itu masyarakat minta kepada Pemerintah Kabupaten Nias Utara untuk segera memproses masalah ini demi memberdayakan masyarakat Desa Tetehosi Maziaya, bukan memberdayakan Kepala Desa Fo'arota Zega.

Kepala Desa Maziaya Foarota Zega yang dikonfirmasi Putera Riau pada Senin, 18 Desember 2017 enggan memberikan keterangan. "Saya sibuk ya," ujarnya pendek.

Kepala Desa Maziaya seakan akan takut dikonfirmasi oleh awak media Puterariau.com sehingga ketika dihubungi langsung down dan jantungan.

Mengkonfirmasi hal ini pada Bupati Nias Utara, M. Ingati Nazara guna mengetahui tindak lanjut laporan masyarakat desa Tetehosi Maziaya melalui telepon seluler (18/12) melalui nomor telpon 081361660xxx masih belum diangkat.

Lalu mencoba menghubungi di nomor telpon seluler Bupati M. Ingati Nazara yang satu lagi 081264425xxx, Ibu Bupati yang mengangkat dan Putera Riau mencoba menanyakan keberadaan Bupati M. Ingati Nazara, Ibu Bupati pun mengatakan bapak lagi keluar daerah. Wah wah wah.... Bohongan apa beneran ya....  (Ken Gea)

Harga Isi Ulang Tabung Gas 3 Kg Melambung, Warga Sungai Guntung Menjerit

Posted by On Sunday, December 17, 2017


Sungai Guntung, (puterariau.com)

Kalau boleh berteriak, tentunya warga Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Inhil ini akan berteriak sekencang-kencangnya. Apa pasal ? Apalagi kalau bukan karena tabung gas elpiji 3 kg.

Pak Senin, warga MGI sangat terbebani dengan harga gas elpiji yang kian melambung tinggi di Kecamatan Kateman pada Minggu (17/12).

Pak Senin pagi ini membeli gas elpiji 3 kg di salah seorang pengencer seharga Rp. 35.000. Saat dijumpai wartawan Puterariau.com di Pelabuhan Simpang Kanan, ia mengeluhkan harga tabung gas saat ini.

"Apakah ini permainan harga atau memang harga HETnya gas elpiji 3 kg memang sudah naik oleh Pemerintah," ungkapnya Senin dengan kesal.

Walaupun harga tabung melambung tinggi, mau tak mau masyarakat harus membeli karena kebutuhan. "Kalau tak beli alamat tak masak dan tak makan," ujarnya.

Biasanya harga kisaran 28 ribu rupiah. Namun saat ini di Sungai Guntung sudah mencapai 35 ribu.

Namun, lebih parah lagi dibanding harga di Kotabaru Seberida Kecamatan Keritang yang berkisar antara Rp.45.000 hingga Rp.65.000 per tabung. Wah wah wah.... (Ridho)

Desa Sungai Teritip Dulu Dan Kini, Jalan Berlubang Dimana-mana

Posted by On Sunday, December 17, 2017


Sungai Teritip, (puterariau.com)

Ekspos pembangunan kian gencar dilakukan guna kepentingan pembangunan daerah. Namun apa yang dikatakan warga ini berbanding terbalik dengan apa yang digembor-gemborkan oleh perangkat desanya. 

Desa Sungai Teritip Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir yang sejak dahulu kerap bermasalah, kini masih betah dengan masalahnya. Dari pantauan wartawan Puterariau.com di lapangan di Desa Sungai TeritiP, Sabtu sore (16/12), terlihat 'penyakit' itu.

Di sepanjang Jalan Lurusan Kantor Desa Sungai Teritip saja belum tersentuh pembangunan semenisasi. Padahal itu jalan poros utama Desa Sungai Teritip. 

"Cuma berepa meter sajalah jalan lurusan Kantor Desa yang tersentuh pembangunan, tepatnya pas di tikungan mau ke arah Sungai Elang," sebut warga memberikan komentarnya. Mereka cukup menyesalkan kepemimpinan Kades yang belum bisa memberikan perubahan pada desa tersebut.

Sebagaimana diinformasikan warga sekitar bahwa sejumlah ruas jalan yang ada di poros lurusan Kantor Desa Sungai Teritip sudah sangat memperhatinkan. Banyak air yang tergenang di jalan yang sudah berlobang.

"Katanya desa ini untuk giat membangun tapi dari kasat mata bisa dilihat pembangunan infrastruktur Desa Sungai Teritip yang sangat masih minim," ujar sumber lapangan tersebut.

Warga daerah lain pun cukup heran melihat fenomena ini disaat adanya info bahwa Desa Sungai Teritip sudah baik infrastrukturnya. "Ternyata kondisi jalan di Sungai Teritip ini sangat memprihatinkan. Bagus pula gang ke rumah saya, daripada jalan utama di Desa Sungai Teritip ini," kata Riduan, warga Sungai Guntung yang ikut turun melihat kondisi di lapangan.

Kades Sungai Teritip masih belum bisa dikonfirmasi mengenai hal ini. Dari pengalaman yang sudah-sudah, oknum Kades ini seakan tertutup dari insan pers. Takut atau galau ? Tanya saja pada pohon kelapa yang ada, hehehe... (ridho)

Cerita Tukang Ojek Pelabuhan HK : Hujan Plus Pasang Besar, Sungai Guntung Ibarat Lautan

Posted by On Thursday, December 07, 2017


Sungai Guntung, (puterariau.com)

Kawasan Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Inhil akhir-akhir ini sudah seperti lautan lepas. "Sudah tak tau lagi mana jalan mana parit," kata Paris, salah seorang tukang ojek yang sering mangkal di Pelabuhan HK.

Menurut Paris yang hari-hari melewati Jalan Yos Sudarso ke Pelabuhan HK ini bahwa air pasang hampir 1 lutut kaki naik ke bahu badan jalan.

"Sudahlah musim hujan ditambah lagi pasang besar, lama-lama Sungai Guntung sudah seperti lautan saja," ungkapnya yang selalu meraup rejeki dari jasa ojek ini.

Kalau pasang besar, ia terpaksa libur kerja dan menunggu surut. Konsekuensinya, perut lapar pun harus ditahan dulu akibat pekerjaan yang tergantung pada kondisi alam dan lingkungan. (Ridho)